Kegiatan BSM di Radio SPASSY FM " Ibadah Karena Muhabbah "

Lubuk Sikaping, Kamis, 22 April 2021, Bincang Sehat Mulia (BSM) yang bekerjasama dengan Radio Spassy FM merupakan program dari Unit PKRS RSUD Lubuk Sikaping yang bertujuan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat sekitar Rumah sakit khususnya dan masyarakat Lubuk Sikaping secara umum, kegiatan ini kembali mengudara dengan tema yang sesuai dengan Bulan Suci Ramadhan yaitu “Ibadah Karena Muhabbah” bersama nara sumber Ibu Rosi Yulita, MA, beliau seorang rohaniawan Islam di RSUD Lubuk Sikaping.

Dalam bincang-bincang sore hari kemaren bersama penyiar Radio Spassy Wenni Calista, ibu Rosi menyampaikan bahwa pada saat bulan Ramadhan ini seluruh umat Islam melaksanakan Rukun Islam yang menjadi pondasi kita dalam beribadah. Ibadah karena Mahabbah, Ibadah adalah bukti cinta kita kepada Allah SWT, rasa cinta merupakan satu hal yang terpenting yang ada dalam hidup manusia, tanpa cinta hidup akan menjadi hampa, namun yang perlu ditekan rasa cinta yang tertinggi adalah cinta kepada Allah SWT. Adapun bukti cinta kita kepada Allah SWT dengan menunjukkan ibadah yang terbaik kepada Allah, seperti dalam firman Allah SWT pada QS Az-zariyat : 56 : “Tidak AKU ciptakan Jin dan manusia kecuali hanya untuk beribadah kepada Ku.

Ibu Rosi menyebutkan bahwa Ibadah secara bahasa adalah merendahkan diri disertai dengan ketundukan. Sedangkan secara istilah ibadah diartikan merendahkan diri kepada Allah SWT yang disertai dengan rasa cinta kepada Allah SWT, sehingga ibadah yang dilaksanakan akan mudah tanpa ada rasa berat ketika melaksanakannya. Tambahnya lagi ada beberapa macam ibadah yaitu :

1. Ibadah Qolbiyah

Ibadah yang dilaksanakan oleh hati, seperti bersyahadat.

2. Ibadah Qauliyah

Ibadah yang dilaksanakan oleh lisan seperti, membaca Al-Quran, bertasbih, bertahmid, berzikir.

3. Ibadah Amaliyah

Ibadah yang dilaksanakan oleh tubuh, yang merupakan aktivitas yang dilaksanakan anggota tubuh, mendirikan sholat, berpuasa.

4. Ibadah Maaliyah

Ibadah yang berkenaan dengan harta benda, mendermakan harta yang kita miliki, seperti, zakat, sedekah dan infaq.

Dari bermacam ibadah tersebut beliau juga menyampaikan bahwa ibadah yang dilakukan haruslah berdasarkan pondasi. Pondasi dari Ibadah adalah dasar kita dalam melaksanakan suatu ibadah, semua perbuatan baik atau ibadah haruslah mempunyai pondasi yang kuat, sehingga amal ibadah yang kita kerjakan akan di terima di sisi Allah SWT dengan baik. Adapun pondasi dalam beribadah harus dilandasi oleh :

1. Mahabbah , atau cinta

Perasaan seseorang yang rindu dan senang terhadap sesuatu, ketika kita cinta kepada Allah maka kita akan rindu dan senang sehingga mengerjakan sesuatu berdasarkan kesenangan kita kepada Allah SWT.

2. Khauf, rasa takut.

Rasa takut melakukan sesuatu yang tidak di di senangi oleh yang kita cintai dalam hal ini Allah SWT.

3. Raja’, harapan.

Setelah ibadah yang kita laksanakan dengan rasa cinta dan ketakutan akan tidak disenangi oleh Allah terhadap ibadah yang kita lakukan,maka akan muncul harapan yang indah agar Allah SWT menerima semua amal ibadah yang kita lakukan.

Ibu Rosi juga menyampaikan ketiga pondasi ini harus dimiliki semua orang dalam beribadah, tidaklah benar ibadah seseorang apabila hanya salah satu pondasi saja yang kita miliki dalam mengerjakan beribadah. Seseoarang yang memiliki rasa takut yang berlebihan akan menyebabkan putus asa, sedangkan jika rasa takutnya rendah maka akan mudah melaksanakan maksiat. Begitu juga bila terlalu rendah rasa harapnya, maka akan mudah berputus asa. Sementara itu kedudukan cinta dalam hal ini, cinta inilah yang mendorong seseoarang untuk melakukan sesuatu. Bu Rosi juga memberikan analogi dalam memaknai pondasi ini, khauf dan raja’ merupakan sayapnya, sementara cinta di ibaratkan seperti kepala burung. Sehingga ketiga nya harus sejalan dengan seimbang, apabila tidak ada salah satunya maka tidak tercapai kekokohan dan keseimbangan dalam beribadah. Apabila seseorang menjalankan ibadah tidak sesuai dengan perintah Allah, maka tidak akan diterima oleh Allah SWT.

Selanjutnya bu Rosi juga menambahkan Syarat diterimanya suatu ibadah yang pertama adalah harus sesuai syariat yang telah ditetapkan oleh Al-Quran dan Sunnah, dan yang kedua adalah harus benar dan dikerjakan ikhlas semata-mata karena ridho Allah SWT, harus bebas dari rasa syirik, dan yang terakhir syarat diterimanya amal ibadah adalah ‘Itiba, yaitu sesuai dengan tuntutan yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.

Bertepatan di bulan suci ini, bulan Ramadhan, ini adalah ibadah yang berbentuk aktivitas fisik, dilaksanakan oleh anggota tubuh, tanpa dilandasi rasa cinta kepada Allah, kita bisa saja makan dan minum dikamar tetapi karena kita melaksanakan ibadah puasa ini dengan rasa cinta, rasa takut, dan pengharapan agar ibadah ini diterima oleh allah SWT. Ketika ibadah ini kita lakukan dengan rasa cinta maka semuanya terasa indah, tidak ada yang memberatkan walaupun tidak makan dan minum dari terbit fajar sampai dengan magrib, tetap kita lakukan dengan senang hati. Meyakini rasa cinta kepada Allah lah sehingga ibadah berat ini terasa menjadi ringan, meskipun harus berlapar di siang hari selama 30 hari. Tetap bisa dilaksanakan dengan baik.

Bincang yang berlansung lebih dari satu jam ini membahas pentingnya menghadirkan rasa cinta ketika menjalankan ibadah, terutama pada saat bulan suci Ramadhan, sehingga semua amalan yang kita kerjakan berharap akan diterima oleh Allah SWT. Demikian bu Rosi mengakhiri bincang sore hari kemarin.